Tokoh-Tokoh Berperan Dalam Kebangkitan Indonesia

Tokoh-Tokoh Berperan Dalam Kebangkitan Indonesia

Tokoh-Tokoh Berperan Dalam Kebangkitan Indonesia – Dalam sebuah peristiwa pasti ada segelintir tokoh yang berjuang demi tercapainya hal tersebut. Tokoh- tokoh yang ada tidaklah memiliki asal usul yang sembaranga. Tokoh – tokoh yang ada memiliki tugas dan kewajibannya masing – masing. Mereka adalah para pahlawan tanpa tanda jasa. Namanya akan selalu terkenang oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia.

Tokoh-Tokoh Berperan Dalam Kebangkitan Indonesia

sumber : themichigancatholic

Tokoh- Tokoh Berperan Bagi Kebangkitan Nasional

Sebelum adanya kemerdekaan tentu saja kita sebagai bangsa yang dijajah melakukan perlawanan terus menerus dari berbagai daerah di seluruh penjuru Indonesia. Sadar akan perlawanan yang sia – sia. Muculah tokoh – tokoh cerdas yang mencetuskan persatuan dan melawan sebagai kelompok.

Wahidin Soedirohoesodo

Wahidin bersama dengan teman – teman seperjuangan mendirikan surat kabar bernama Retno Dhoemilah. Surat kabar ini menggunakan dua bahasa yaitu, Jawa dan Melayu pertama kali surat kabar ini terbit di Yogyakarta pada tahun 1895. Melalui surat berita ini Wahidin menyampaikan pemikiran tentang nasionalism, pendidikan, kesamaan derajat, dan budi pekerti. Surat kabarnya berhasil menarik hati para simpatisan akhirnya Wahidin bertemu dengan Soetomo dan mereka mendirikan organisasi Budi Utomo. Wahidin juga merupakan seorang dokter yang mengabdi pada masyarakat dan memberikan pelayanan secara gratis bagi masyarakat Indonesia.

Soetomo

Setelah bertemu dengan Wahidin, semangat yang ada pada Soetomo akhirnya terbangun untuk memperjuangkan hak bangsa Indonesia sebagai negara yang bebas. Bersama dengan rekannya Soetomo mendirikan organisasi pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang ilmu pendidikan. Soetomo merupakan seorang dokter yang mengabdi pada masyarakat, selain dokter beliau merupakan aktifis dalam bidang jurnalisme. Setelah Budi Utomo, Soetomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924 dimana organisasi ini terdiri dari orang – orang terpelajar.

H. O. S. Tjokroaminoto

Tjokroaminoto adalah sesosok yang sangat pandai dalam menyampaikan pidato. Beliau adalah orang yang sangat rajin dan memiliki integritas untuk memacu semangat patriotisme para pemuda di Indonesia. Tjokroaminoto merupakan tokoh dari Sarikat Islam,  berawal dari komisaris hingga menjadi ketua dari Sarikat Islam. Pada masa kepemimpinannya Sarikat Islam mengalami kemajuan yang begitu pesat.

E. F. E. Douwes Dekker

Douwes Dekker atau yang lebih dikenal dengan nama Multatuli merupakan seorang berkebangsawanan Belanda namun  memiliki darah Indonesia. Lahir dari orang tua yang berccampur Multatuli lebih membela bangsa Indonesia karena menurut nya penjajahan sangat lah tidak berkeprimanusiaan. Beliau mendirikan organisasi Indische Partij, pemerintah Belanda menilai organisasi tersebut terlalu membahayakan sehingga Belanda membubarkan organisme tersebut.

Tjipto Mangoenkoesoemo

Beliau adalah seorang dokter yang bekerja untuk pemerintah. Tentunya beliau memiliki ilmu pengetahuan yang luar biasa. Setiap harinya Tjipto memprotes keras melalui dua surat kabar yang ada. Pihak Belanda merasa kesal adn menangka Tjipto. Beliau berhasil kabur dan bertemu Multatuli dan Soewardi Soerjaningrat.

Soewardi Soerjadiningrat

Tokoh-Tokoh Berperan Dalam Kebangkitan Indonesia

Soewardi Soerjaningrat merupakan tokoh yang dikenal aktif dalam dunia wartawan. Beliau pernah bekerja di berbagai surat kabar, seperti Sediotomo, Midden JavaDe Express Oetoesan Hindia, dan masih banyak lagi. Saat bertemu dengan Douwess Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, mereka bersama membangun Indische Partij. Soewardi Soerjaningrat pernah membuat sebuah tulisan yang sangat terkenal, yaitu “Als Ik een Nederlander was” yang artinya “Seandainya saya seorang Belanda”. Selain itu ada juga tulisan lainnya yang berjudul “Een voor Allen maar Ook Aleen voor Een” yang artinya “Satu untuk semua, tapi semua untuk satu juga”. Setelah diasingkan ke Belanda, beliau kembali dan mendirikan sekolah bernama National Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Pada umur 40 tahun, Soewardi Soerjaningrat mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara.