Sejarah Candi Bajang Ratu

Sejarah Candi Bajang Ratu

Sejarah Candi Bajang Ratu – Candi Bajang Ratu merupakan salah satu candi peninggalan kerajaan Majapahit. Yang tepatnya berada di desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Berdasarkan namanya. Penamaan Bajang Ratu dari bahasa Jawa yaitu asal kata Bajang dan Ratu. Bajang sendiri artinya kerdil, jadi bajang ratu maksudnya bahwa Raja Jayanegara dinobatkan sebagai raja kerjaan Majapahit ketika masih kecil.

Artikel ini di dukung oleh : https://juarampo.co/

Candi ini berbentuk gapura yang terbuat dari batu bata merah, yang mana pada jaman dahulu berguna sebagai pintu utama menuju kerajaan Majapahit. Namun, kini candi Bajang Ratu berfungsi sebagai pintu masuk para peziarah yang berkunjung.

Candi Bajang Ratu atau banyak yang menyebutnya juga sebagai Gapura Bajang Ratu merupakan sebuah canri peninggalan kerajaan Majapahit yang kemungkinan dibangun pada abad ke-14. Candi Bajang Ratu adalah salah satu gapura pada zaman kejayaan Majapahit. Penyebutan dengan gapura bajang ratu, karena candi ini memiliki bentuk berupa gapura besar. Gapura ini berfungsi sebagai pintu belakang kerjaan sekaligus sebagai bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara. Hingga saat ini menjadi sebuah budaya bagi para peziarah untuk melewati candi atau gapura ini ketika berziarah.

Penamaan

“Bajang Ratu” dalam bahasa Jawa artiannya “raja/bangsawan yang kecil/kerdil”. Dari artian nama tersebut, gapura ini berhubungan penduduk setempat dengan Raja Jayanegara (raja kedua Majapahit) serta tulisan dalam Serat Pararaton. Saat dinobatkan menjadi raja, usia Jayanegara lagi sangat muda “bujang/bajang” sehingga mungkin gapura ini dengan istilah “Ratu Bajang/Bajang Ratu” berarti “Raja Kecil”. Bila berdasarkan legenda setempat, percaya kalau kala kecil Raja Jayanegara terjatuh di gapura ini serta menimbulkan cacat pada badannya, sehingga nama Bajang Ratu “Raja Kerdil”.

Baca juga informasi dan artikel menarik lainnya di : themichigancatholic

Sejarawan mengkaitkan gapura ini dengan Çrenggapura (Çri Ranggapura) ataupun Kapopongan pada Antawulan( Trowulan), suatu tempat suci yang dalam Kakawin Negarakretagama : “Sira ta dhinarumeng Kapopongan, bhiseka ring crnggapura pratista ring antawulan”, sebagai pedharmaan (tempat suci). Di sana dibicarakan kalau setelah wafat pada tahun 1250 Saka (sekitar 1328 M), tempat tersebut dipersembahkan untuk arwah Jayanegara yang meninggal. Jayanegara didharmakan di Kapopongan dan dikukuhkan di Antawulan( Trowulan). Reruntuhan kesan candi tempat Jayanegara didharmakan tidak ditemui, yang tersisa tinggal gapura paduraksa ini serta pondasi kesan pagar. Penyebutan” Bajang Ratu” timbul awal kali dalam Oundheitkundig Verslag (OV) tahun 1915.

Struktur kontruksi

Bagi buku Drs I. Gram. Bagus L Arnawa, terlihat dari wujudnya gapura ataupun candi ini ialah kontruksi pintu gerbang jenis “paduraksa” (gapura beratap). Secara raga seluruhnya candi ini terbuat  dari batu bata merah, kecuali lantai tangga dan ambang pintu dasar serta atas yang terbuat dari batu andesit. Berdiri pada ketinggian 41, 49 meter dpl, dengan orientasi menuju timur laut- tenggara. Denah candi berbetuk segiempat, berdimensi± 11, 5 (panjang) x 10, 5 meter( luas), tinggi 16, 5 m, lorong pintu masuk luas± 1, 4 m.

Secara vertikal kontruksi ini memiliki 3 bagian: kaki, tubuh, dan atap. Memiliki semacam sayap serta pagar tembok pada kedua sisi. Kaki gapura selama 2, 48 m. Struktur kaki tersebut terdiri dari bingkai dasar, tubuh kaki serta bingkai atas. Bingkai- bingkai ini cuma terdiri dari lapisan beberapa pelipit rata serta berbingkai wujud genta. Pada sudut- sudut kaki ada adunan simpel, kecuali pada sudut kiri hadapan terdapat relief menggambarkan cerita” Sri Tanjung”. Pada bidang badan atas ambang pintu benar relief adunan “kala” dengan relief adunan sulur suluran. Serta bidang atapnya ada relief adunan berbelit, berupa kepala “kala” diapit singa, relief matahari, naga berkaki, kepala garuda, serta relief bermata satu atau monocle cyclops. Guna relief tersebut dalam keyakinan norma budaya Majapahit merupakan selaku pelindung serta penolak mara bahaya. Pada sayap kanan benar relief kisah Ramayana serta pahatan hewan bertelinga panjang.

Lokasi

Posisi Candi Bajang Ratu berletak relatif jauh (2 km) dari dari pusat kanal perairan Majapahit di sebelah timur. Saat ini terletak di Dusun Kraton, Desa Temon, berjauhan lumayan tidak jauh( 0, 7 kilometer) dengan Candi Tikus. Gagasan pemilihan posisi ini oleh arsitek kerajaan Majapahit, bisa jadi buat memperoleh ketenangan serta keakraban dengan dunia tetapi lagi terkendali. Dengan fakta demikianlah keadaanya kanal melintang di sebelah hadapan candi berjauhan kurang meningkat 200 m yang langsung mengarah bidang tengah sistem kanal Majapahit. Menampilkan ikatan kecil dengan kawasan pusat kota Majapahit.

Buat menggapai posisi Gapura Bajang Ratu, wisatawan wajib mengendara sepanjang 200 m dari jalur raya Mojokerto – Jombang. Sampai pada perempatan Dukuh Ngliguk, berbelok ke arak timur sepanjang 3 kilometer, Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Riset serta pelestarian

Pendirian Candi Bajangratu sendiri tidak tentu, tetapi bersumber pada relief yang ada pada kontruksi tersebut, mungkin candi ini terbentuk pada masa era ke 13-14. Peresmian candi ini pada tahun 1992 oleh Dirjen Kebudayan Departemen pembelajaran serta Energi upaya budi Republik Indonesia.

Keyakinan lokal

Pengaruh energi upaya budi luhur Majapahit lagi terasa dalam kepercayaan warga Trowulan. Bagi keyakinan lokal, merupakan suatu pamali buat seseorang pejabat pemerintahan untuk melintasi ataupun merambah pintu gerbang Candi Bajang Ratu. Sebab percaya perihal tersebut sanggup mendatangkan nasib kurang baik.